page last
edited: 04-Agust-2008

 

06 July 2008 writing by Probo Hindarto
This article contains experimental way
 (surrealistic story) of thinking
in architecture as well as analytic.

Please feel free to comment.



Architecture and Alice in Wonderland

Fajar menyingsing kembali, kala aku melihat sang surya bersemangat memulai harinya. Dikala arsitek-arsitek dan mereka yang kukenal tak akan menyerah dalam apa yang diyakininya... juga dikala arsitek-arsitek lain yang menyerah pada dunia yang meyakininya...

 

The dawn came back, when I saw the sun eagerly starting his new day. When architects and they whom I knew will never give up for what they believe... Also when other architects gave up to the world that believe in them...

Artwork, pencil and paper  + edited with Computer
by Probo Hindarto, June 7th, 2008

 

Alice menemuiku bersama kelinci naifnya dalam first encounter petualangan, ternyata dialah penghuni dunia yang sebenarnya, yang belum mati seperti saudagar jemblung
Nietzche melompat-lompat kegirangan, ia memang sudah gila dari sononya. Tapi aku senang ia bersedia berjingkrak dalam pikiranku, karena aku juga gila. 
Descartes tersenyum nikmat sekali; "Rasakan kau begundal! Dalam sistem yang kami bangun yang tidak pernah kausadari; telah mengikatmu kuat-kuat"
Mangunwijaya ditempatnya bertapa, memandangku dalam-dalam... Flashy... 

Pertemuan pertamaku dengan Alice dan tanah impian

Memang menjemukan, bila kau lihat mereka TIDAK dalam keadaan yang ingin kau temukan. Ketika Alice turun kedalam lubang kelinci, aku juga turun sebagai bayangan. Kemudian aku juga menemukan kejatuhan yang hebat dalam lubang kelinci itu, terbang dan berangan apakah ini akan berakhir disuatu tempat, selain jatuh diatas atap rumah.

Jadi aku jatuh dan jatuh, setelah lama terjatuh, menemukan diriku dalam lorong berpintu-pintu, mengharapkan menemukan jalan keluar. Seperti Alice, aku menemukan kunci pintu tikus, yang dengannya aku tertarik oleh taman di tanah impian. Tapi omong kosong untuk memberitahumu, semua hal yang secara alegoris terjadi padaku seperti pada Alice, meskipun semuanya terasa sama.

Kemudian aku mengajak Alice untuk mengikutiku kedalam tanah impianku sendiri, dia tidak begitu takjub, karena seperti kau tahu, INI ADALAH DUNIA NYATA.

Apa yang kumaksud dengan tanah impian adalah sesuatu yang terjadi dalam anganku, berkaitan dengan arsitektur. Aku tentu saja mengambil resiko untuk mengajak siapapun memasuki tanah impian ini.

 

Alice find me with her naïf rabbit in the first encounter of adventure, she was the real citizen of the world, who's not died like a greedy merchant.
Nietzche jumps in excitement, he was insane from the beginning. But I was happy he spare a time jumping in my mind, for I am also insane.
Descartes smile very happily; "Gotcha! In the system that we built that you have never realized, has tied you strongly"
Mangunwijaya meditating in his place, watching me deeply... Flashy...

My Encounter with Alice and the Wonderland

It's also boring, when you see them NOT in a state you're hoping to find. When Alice came down the Rabbit hole, I came with her too, as a spirit. Then I also found the amazing falling down the rabbit hole, flying and wondering whether it's going to end somewhere, instead of falling on a top of a roof. 

So I came down and fell, after a long-long time of falling, found myself in a passage with doors, hoping to find a way out. Like Alice, I found the key of the rat hole door, by which I was in temptation of  the garden of Wonderland. But it's nonsense to tell you, all the thing allegorically happened to me as to Alice, even everything was quite the same. 

Then I ask Alice to follow me to my own wonderland, she was not quite amused, as you can see, IT IS THE REAL WORLD. 

What I mean by wonderland is something happened inside my mind, related to architecture. I surely take risk to ask anyone to enter this wonderland. 

 


Picture source: http://robertsabuda.com/images_bk_int_pop/alice/alice_color_me_600px.jpg

 

Alice tidak memberitahuku bahwa aku harus bertemu dengan berbagai hal yang aku tidak suka dalam perjalananku... Atau dia sudah mengatakannya dan... ya ternyata aku baru sadar, dia sudah. Dia mengatakan padaku bahwa ia menangis, ketika masalah datang dalam perjalanannya. Dan sesuatu yang tidak harus terjadi, terjadi pula dalam sebuah kisah, ketika aku pergi ke kerajaan tua Majapahit, yang akan kuceritakan padamu setelah ini.

Aku bertanya pada Alice; "Mengapa aku tidak mendapatkan kesenangan yang sama denganmu?"

Dia berkata; "Apa yang ingin kau lakukan? Apakah kamu tidak cukup puas dengan literatur biasa, selain membuat literatur fiksi surealis seperti aku untuk mendeskriipsikan pengalamanmu" dan dia bergerak seperti seorang penari balet.

"Tentunya aku ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengatakan cerita biasa agar kesenangannya bertambah", aku menjawab, namun kemudian, aku merasa kakiku bergerak oleh sebuah energi, aku jatuh dalam dunia lama kerajaan Majapahit.

 

Alice didn't tell me that I should meet things that I don't like in the journey... Or she might have and... yes I realize now, she had. She told me she was crying, when troubles came in her journey. And something which are not necessary happened in a fairy tale, when I took the journey to the old kingdom of Majapahit, that I will tell you after this. 

I asked Alice; "Why can't I have the same excitement like you?" 

She said; "What are you trying to do? Aren't you satisfied enough with ordinary literature, instead of making surreal fiction literature as mine to describe your experience" and she was moving like a ballet dancer.

"Certainly I'd like to do more things than just telling ordinary story for it will add the excitement" I replied, but yet, I begin to feel my feet moved by an energy, I fall into the world of the old Majapahit kingdom.... 

 

Dimulai pada sebuah pagi yang cerah di tanah raja-raja masa lalu. Udara masih terasa lembab. Bata-bata masih basah. Well, tentu saja, tidak ada udara jahat, kau tahu. Udara jahat adalah udara perang dan kebencian. Yang ini terasa sangat bersih dan baik. Alice sudah bersama denganku, dan dia sedang mengerjakan sesuatu yang lain, menurutku dia sudah terbiasa dengan hal-hal yang biasa dilakukannya sendirian.

Bangunan itu besar, dinamakan Wringin Lawang, atau nama yang sama untuk 'Gerbang Beringin' berbentuk candi berpasangan, yang berfungsi sebagai gerbang untuk kawasan rumah-rumah. Gerbang itu sangat hebat, dan sangat menyenangkan untuk memasuki bagian dalamnya.

 

It started in a bright shiny morning in the land of the kings of the past. The air was still misty. The brick was still quite wet. Well, it should be, there's no bad air, you know. Bad air is the air of war and hatred. This one is very clear and nice. Alice was with me, and she was doing something else, I thought because she was accustomed to doing things by herself. 

The building is huge, called Wringin Lawang, or I suppose the name similar to 'Banyan tree gate' formed as 'candi' or temple in a pair, serving as a gate to housing community. It was a great gate, and very pleasing to enter the inner court of it. 


The Wringin Lawang, a gate to housing complex in the kingdom of Majapahit.



 

Tiba-tiba datang pasukan berkuda, sekitar lima pasukan Jawa melewati jalan. Salah satunya melihatku dengan tanda tanya.

"Dari mana kamu berasal?" ia bertanya dengan bahasa Jawa yang sangat kuno. Mungkin ini disebabkan aku memakai kaos warna jingga dimana tidak ada seorangpun waktu itu yang menggunakan warna secerah ini. Aku memakainya karena kupikir ini akan sesuai dengan warna merah bata dari bangunan candi di Majapahit.

"Aku datang dari masa depan, Indonesia", aku menjawab. Dia turun dari kuda.

"Raja akan menghukum setiap mata-mata" dia berkata dengan lantang. Aku gemetar, aku melihat Alice yang sedang bersama dengan beberapa anak kecil dalam gerbang candi Wringin Lawang.

 

Suddenly there were horses with knights, about five Javanese knights came across the road. One of them saw me curiously.

"Where are you from?" he asked in a very old Javanese language. This was supposed because I used orange t-shirt that there was no person ever used the kind of bright color. I used it because I thought it would fit the color of the red brick of the temple buildings in Majapahit. 

"I came from the future, Indonesia" I replied. He got down from the horse. 

"The king will punish every spy" he said quite loudly. I was trembled, I looked to Alice who found herself with several children inside the temple gate of Wringin Lawang. 

 


Picture of me, at the gate of Wringin Lawang


Mereka berkata orang-orang ini masih membunuh orang. Aku tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan gemetar tanganku. Tapi sesuatu muncul dari pikiranku... sebuah nyanyian yang aku ingat, dan aku mulai bernyanyi. Mungkin untuk menghilangkan gugup.

"Du bi du bi du bi du baeeee....
Du bi du bi du bi du baeeeee..."

terdiam...

"Pelangi-pelangi, 
Alangkah indahmu.
Merah kuning hijau,
Dilangit yang biru.

Pelukismu Agung,
Siapa gerangan?
Pelangi-pelangi
Ciptaan Tuhan."

terdiam...

 


They say these people still kill people. I could do nothing to help my hands from shaking. But something came out of my mind... one song I remembered, and I begin to sing. Maybe to get rid of the anxiety.

"Du bi du bi du bi du baeeee....
Du bi du bi du bi du baeeeee..."

silent...

"Rainbow-rainbow,
You are very beautiful.
Red yellow green,
In the sky of blue.

Your Painter is Mighty,
Who would He be?
Rainbow-rainbow
Creation of the Lord"

silent...

 


Statue of Garuda Vishnu of the ancient Majapahit. (This statue is placed in the museum of Majapahit)


Painting of Vishnu when he fight the giant crocodile and elephant in search of Tirta Amerta, the water of immortality, in the ancient Hindu mithology.
Picture source: http://sss.vn.ua/india/murtis/vishnu_garuda_gajendra_makara.jpg

Kami tak tahu dari mana asalnya, ada angin ribut di udara, pohon-pohon bergerak hebat, awan hitam memenuhi angkasa, dan ada seekor burung terbang, seekor burung yang sangat besar yang aku yakin itu adalah GARUDA, karena ada Wisnu diatas punggungnya.

"Lepaskan para petualang itu" Wisnu berkata seperti gema dan dentingan bel. "Karena dia hanya berkunjung. Biarkan ia mendapatkan kesenangan dari masa lalu"

Semua prajurit membungkuk dihadapan figur luar biasa itu, Alice memegang tanganku dan kami tidak membungkuk pada Wisnu, mungkin karena kami orang-orang modern.

Cakar-cakar Garuda sangat besar dan ia mengambil kami dengan cakarnya dan terbang ke angkasa. Wisnu menunjukkan area kuno Majapahit dari angkasa. Ada banyak danau buatan, yaitu berjumlah 32 buah di Majapahit. Bentuk danau itu segi empat, dibuat dari bata merah yang tidak dilem.

Para peneliti berkata danau-danau ini dimaksudkan untuk menetralkan terperatur disekitarnya sekaligus untuk mempertahankan kelembaban, karena udara cukup kering di Majapahit (dulu) atau Mojokerto (sekarang). Ini menunjukkan betapa tingginya teknologi dan pengetahuan Majapahit. Legenda mengatakan bahwa danau ini digunakan untuk membuang piring dan sendok emas setelah perjamuan dengan tamu negara. 

We didn't know where it came from, there was heavy wind in the air, the trees were moving badly, black clouds covered the sky, and there was the bird flying, a very big bird that I believed it was GARUDA, because there was Wisnu/Vishnu on his back.

"Let go of the traveler" Vishnu said in a voice like echoes and ring of bells. "For he is just visiting. Let he find the amusement of the past". 

All the knights bowed in front of this mighty figure, Alice hold my hand and we didn't bow to Vishnu, maybe because we are modern people. 

The claws of Garuda was so big and it then took me and Alice with his claw and fly to the sky. Vishnu showed the ancient area of Majapahit from the sky. There were many artificial lakes, which were 32 of them in Majapahit. The shape of the lake is rectangle, made of red brick unglued. 

The researchers said that the lakes were meant to neutrilize the surrounding temperature as well as maintaining humidity, because the air is quite dry in Majapahit (was) or Mojokerto (now). This shows the sophisticated technology and knowledge of Majapahit. Legends say that The lake was used to throw away the gold plates and spoons after dining with foreign guests. 

Click here to use Google Earth to experience the flying through the ancient majapahit area started from Segaran Lake.

 

- Akhir dari tulisan surealis -

Kesenangan dalam detail 

Semua peninggalan Majapahit kuno yang bertahan hingga saat ini memiliki suatu kecenderungan menunjukkan detail, sebagaimana semua bangunan kuno di Jawa dan Nusantara pada umumnya. Tampaknya detail telah menjadi bagian dari cara manusia Jawa berarsitektur dan memasukkan detail sebagai unsur tak terpisahkan dari bangunan. 

Contoh nyata, detail dicandi Gapura Bajangratu, dengan berbagai simbol tertera melalui relief. Disamping keberadaan bangunan berbahan bata yang bertahan hingga sekarang dengan beberapa pemugaran, candi ini tidak hanya menarik dari sisi kesan monumentalnya, tapi juga dari detail. Karena itu proporsi bangunan tidak hanya dilihat melalui keseluruhan bangunan, namun secara visual bangunan ini masih menyisakan sudut-sudut menarik dari sudut pandang terdekat sekalipun.

Menarik tidak hanya secara visual mengundang perhatian, namun juga menarik karena pengamat dapat merasa dituntut untuk menghayati berbagai fenomena yang dihadirkan secara visual, melalui bentuk bangunan, simbol, serta detail. 

Bangunan-bangunan candi di Majapahit memiliki kesan mistis yang tidak dapat dibandingkan dengan bangunan 'modern', bahkan terminologinya tidak begitu dikenal lewat literatur barat. Dan untuk 'mengalami' perasaan yang hadir akibat kesan tersebut, tidak ada cara lain kecuali datang sendiri dan merasakan ruang, solid maupun voidnya. 

Pelajaran berharga dari mengunjungi situs purbakala adalah melihat dan mengetahui bagaimana masyarakat jaman dahulu membangun. Sekaligus dengan menghayati ruang, mengenal ruang dapat memberikan inspirasi saat mendesain.

Detail yang sebagai bagian dari arsitektur asli Nusantara terasa kurang bergema dalam gempita arsitektur 'modern', dimana sebenarnya arsitektur modern sudah dinyatakan 'mati' oleh Jencks, dan 'less is more' oleh Meis Van der Rohe sudah menjadi 'less is bore' oleh Venturi. Kehadiran detail dalam bangunan-bangunan candi menjadi kekuatan utama disamping bentukan keseluruhan bangunan. Hal ini menjadikan detail sebuah kenikmatan visual atraktif selain muatan simbol yang dimilikinya dapat memberi manfaat lebih berupa penerusan sejarah melalui penggambarannya. 

Sangat menyenangkan untuk mengetahui bahwa keberadaan detail adalah salah satu jembatan untuk menuju penerusan tradisi dalam konteks modern. Secara sederhana karena detail adalah 'amanat' dari arsitektur tradisional. Dan sangat menyenangkan untuk mengeksplorasi arsitektur berteknologi baru dengan memasukkan detail. 

Karena itu detail perlu dipikirkan sebagai langkah penerusan tradisi, secara sederhana karena detail sudah menjadi bagian dari arsitektur tradisional. Detail yang dimaksud adalah detail dengan kosakata lokal yang dapat masuk dalam konstruksi modern. 

Hal ini dimungkinkan sebagai bagian dari 'infiltrasi' arsitektur tradisional dalam arsitektur modern, menjadikan ide-ide yang selama ini teralienasi akibat berkembangnya arsitektur modern dalam taraf baru yang disebut postmodernisme. Citra akibat detail sungguh merupakan nilai tambah dari citra visual bangunan, yang akan memberikan nilai tambah bangunan bagi pengamatnya. Hal ini karena manusia adalah mahluk dengan emosi, perasaan dan memori subyektif serta keinginan untuk menghayati ruang bagi terbentuknya memori masa depan. 

Kita tidak bisa menggantikan memori karena berada disuatu tempat, lebih dari sekedar melihat gambar di buku atau majalah. Karena segala sensasi berkaitan dengan ruang akan sempurna bila raga berada ditempat tersebut (seperti dituliskan dalam "Merah Putih Arsitektur Nusantara" oleh Galih Widjil Pangarsa). Meskipun demikian, kebiasaan pengamat akan menentukan interpretasi terhadap obyek arsitektur. Hal ini menentukan apakah seorang pengamat dapat menghargai sebuah obyek arsitektur atau tidak.

Tentu saja melalui persepsi dapat timbul kekaguman pada obyek candi di Majapahit. Dan kenyataan bahwa sebuah obyek yang terlihat 'lama' bisa jadi menarik dibandingkan yang 'baru' misalnya, dapat pula terjadi. Seperti membandingkan obyek peninggalan masa lalu dengan bangunan baru berupa mall. Didalam mall juga terdapat hal-hal yang dapat menimbulkan decak kagum, terutama karena teknologi telah dapat membuat 'permen-permen baru' bagi mata orang modern. 

Ternyata dalam pengamatan penulis, arsitektur dan ruang yang ada dapat memberikan pemicu ketertarikan pada jenis arsitektur kuno ini. Bukan seperti segala persepsi yang terjadi saat berada di mall, tetapi persepsi lain akan kehadiran ruang, makna, simbol, detail dan hal-hal lain. Tentu saja sebuah perasaan yang lain sama sekali bersentuhan dengan dinding yang dibuat berabad-abad yang lalu, dibandingkan dengan dinding modern kaca. Disini terdapat perbedaan tolak ukur keindahan, sekaligus disinilah letak perbedaan penghayatan terhadap obyek arsitektural dalam konteks yang berbeda, dengan kata lain; kemampuan untuk tertarik pada sebuah obyek arsitektur. 

Berbicara dengan konteks iconography, terdapat banyak sekali kosakata arsitektural yang dapat menjadi benih bagi penerusan tradisi, atau bila tidak ingin terlalu ekstrim, bisa menjadi kosakata arsitektur dengan nilai lokal yang kuat.  

 

- End of surrealistic writing -  

Fascination of details

All the ancient ruin in old Majapahit that survive until this moment has a tendency to show details, like all ancient building in Java and Nusantara. Details have become a part of Javanese architecture and inseparable element of buildings.

Fine example, details in Bajangratu Gate Temple, with many symbols made inside relief. Aside of building presence that exist until now with some restoration, the temple is not only attractive from its monumental size and proportion, but also visually attractive with interesting corners even from the nearest distance. 

Attractive not only visually appealing, but also attractive because observer can be triggered to understand many visual phenomena, like form, symbols, and details.

Buildings in Majapahit have mystical trace that is incomparable with 'modern' buildings, even the terminology would not be well known in western literature. And to 'experience' the feeling that happens because of the trace, there is no other way than visiting the site and feel the space, the solids and voids. 

Valuable lesson from visiting the old sites is seeing and knowing how ancient societies build their building. Visiting the site also help us understand the space that may give inspiration when designing.

Detail as a part of Nusantara (Indonesian) traditional architecture is less used in the euphoria of 'modern' architecture, whereas modern architecture had been declared 'dead' by Jencks, and 'less is more' by Meis Van der Rohe had been 'less is bore' by Venturi. Detail presence in temple buildings become the main power beside the all form of building. This makes detail as an attractive visual pleasure aside of symbolism contained to give more value of historical information through figures.

It is very much a pleasure to know that detail presence is a bridge to continue tradition in modern context. Simply because detail is a part of traditional architecture (especially in Indonesia). And it is a pleasure to explore new architecture technology in detail.

That is why detail use needs to be thought as a step for historical preservation, simply because detail has been a part of traditional architecture. Detail in here is local vocabulary that become a part of modern construction.

This is possible as part of 'infiltration' of traditional architecture inside modern architecture, making aliened ideas as the side effect of modern architecture coming into a new level of postmodernism. Image from detail can be an added value of visual image of building, that will add more value to its observer. This because human is creature with emotion, feeling and subjective memory and a will to interpret space to form future memory.

We can not replace memory of being in a certain place, with seeing picture in books or magazine. Because all sensation related to space will only be perfected if the observer present in the space (like mentioned in the book "Merah Putih Arsitektur Nusantara" or Red White Nusantara Architecture, written by Galih Widjil Pangarsa). Even so, observer's behavior will determine interpretation of architecture object. This will determine whether an observer will appreciate an architecture object or not. 

From perception, there might be interest to temple buildings in Majapahit. The reality is, an old building can be more interesting than the new one. This is like comparing an old remain of the Majapahit with new mall building, for instance. Inside a mall, there are interesting objects that may bring amusement, especially because technology has been able to make new architecture 'candies'.

By my experience, architecture and the existing space can trigger an interest to this kind of old architecture. Not like the perception that exist in the presence of space, meaning, symbol, details and other things. Of course, there is a difference of touching a wall that was made centuries ago, compared with modern glass wall. In this case, there is a difference of aesthetic value, and this will determine understanding of architectural object in different context, in other word, the ability to be interested in an architectural object.

In iconography context, there are many vocabularies can be 'seed' to tradition, or without being too extreme, a strong vocabulary of local values.

 


 

Untuk membawa icon dari masa lalu ke masa sekarang bukanlah hal yang mustahil, contohnya seperti yang dilakukan oleh Renzo Piano dengan Tjibau Cultural Centre, di Noumea, Kaledonia Baru. Ikonografi ini membawa konteks baru gubuk-gubuk suku Kanak dalam konteks teknologi modern, menghasilkan arsitektur yang menawan dari estetika dan keanggunannya.

 

 

To bring icon of the past into present time is not impossible, for instance the one done by Renzo Piano with Tjibau Cultural Center, in Noumea, New Caledonia. This iconography brought new context of vernacular Kanak house architecture, creating aesthetic and beautiful new architecture that has a connection with local values. 


Photo by Fanny Schertzer, under GNU lisence





Photo by Fanny Schertzer
Under GNU lisence

 

(Probo Hindarto)


COMMENTS:


Komentar Anda tentang artikel ini/ Your Comments about the article

name
email
comments
Menurut Anda website ini...
You think this website is...

                       

 

 

new! NEWS from


astudio pindahan alamat web. Kunjungi alamat baru kami ya!


Buku2 Probo Hindarto
In progress: Buku tentang rumah dan buku berformat majalah.

 

Stay up to date with astudio
disclaimer astudio
astudio mengundang
 


© Copyright 2008 astudio Indonesia. bagaimana beriklan di web ini
Isi website ini adalah property intelektual milik astudio architect & writing, kecuali disebutkan. Penggunaan atas nama pribadi atau institusi lain mohon dikonfirmasikan kepada astudio. Terimakasih.
Template website by; astudio & Blueg, inc (Alfone)